‘Pemersatu Bangsa’ Adalah Kasta Tertinggi yang Bisa Digapai Seorang Artis Indonesia

Image for post
Image for post

Tatkala dua orang berkumpul, di sanalah hadir kemaksiatan. Tatkala tiga orang berkumpul, kemaksiatan berubah menjadi persatuan bangsa. Orang ketiga berjasa bukan karena merebut suami atau istri orang, melainkan karena menyebarkan video ‘pemersatu bangsa’. Begitulah kesimpulan yang saya dapatkan ketika ikut berdiskusi membahas fenomena yang lagi-lagi marak di salah satu media sosial bersama dua orang teman.

Kali ini, ada tiga orang public figure yang dicurigai sengaja merekam adegan tidak senonoh yang mereka lakukan, entah untuk koleksi pribadi atau memang ingin dipamerkan suatu saat nanti. Namun, kami hanya berfokus membahas seseorang yang memiliki wajah serupa dengan artis berinisial GA dengan persentase kemiripan wajah di atas 70%, sebuah angka yang menurut saya cukup tinggi.

Kami berselisih paham mengenai keautentikan di dalam video berdurasi 19 detik itu. Membandingkan latar tempat, warna gorden, posisi tempat tidur, dan pencahayaan dengan video Tiktok yang sempat diunggah oleh sang artis pada pagi harinya, mengantarkan kami pada kesimpulan sementara bahwa benar adanya bahwa orang tersebut — tak lain dan tak bukan — adalah seorang GA yang secara sadar atau tidak sadar berubah menjadi binal pada malam purnama itu.

Adalah Roy Suryo sendiri yang mengkonfirmasi keaslian video tersebut. Beliau merupakan seorang pakar informatika, multimedia, dan telematika — setidaknya itulah yang dikatakan oleh dirinya dan media massa yang sering mengundangnya menjadi narasumber. Saat menjelaskan hasil analisisnya, beliau memiliki gelagat yang cukup sumringah — seakan membenarkan keaslian sosok GA di dalam video maksiat tersebut.

Semarak kejadian ini membawa saya kembali ke tahun 2010 lalu, bernostalgia akan kasus asusila Ariel Noah dengan Luna Maya dan Cut Tari. Ariel dinyatakan bersalah dan diberikan hukuman kurungan selama 3,5 tahun dan denda Rp 250 juta. Sebagai peristiwa yang berhasil menorehkan sejarah di dalam dunia perbokepan Indonesia, sudah sewajarnya kasus ini ditilik kembali dan dijadikan acuan untuk menilai kasus video porno GA.

Pertanyaannya, mengapa video porno mirip artis lebih sering dicari dan dipermasalahkan ketimbang video porno lainnya? Padahal, tidak sedikit video porno kelas kakap maupun kelas teri yang beredar di jagat dunia maya. Saya tidak menampik bahwa memang benar adanya menonton atau melakukan perbuatan tidak senonoh merupakan kebutuhan biologis seseorang yang terjadi secara naluriah. Namun, jika pelaku dalam video merupakan seorang artis terkenal, sepertinya hal tersebut memunculkan rasa birahi yang lebih dari biasanya.

Mungkin jika dilihat dari sisi psikologis, seorang artis memiliki ‘harga’ yang lebih mahal dibandingkan orang biasa. Intensitas kemunculannya yang sangat tinggi di dalam kegiatan kita sehari-hari menanamkan citra ideal seseorang di dalam benak kita secara bawah sadar. Mengapa saya katakan ideal? Tentu saja karena kecil kemungkinan bahwa sang artis ingin menunjukkan sifat buruknya di hadapan publik, melihat bahwa masyarakat kita merupakan masyarakat yang memuja-muja peran protagonis dan mencaci-maki peran antagonis. Tidak salah memang. Yang salah adalah ketika kita benar-benar menyamakan seorang public figure dengan manusia setengah dewa yang sempurna tanpa cacat cela.

Kenyataan ini juga yang membuat video syur artis lebih cepat viral, yang pada akhirnya berimbas menjadi sebuah kasus hukum. Terlepas benar atau tidaknya pelaku dalam video merupakan sosok artis yang bersangkutan, nama artis tersebut akan terdongkrak karena banyaknya pemberitaan mengenai dirinya yang tersebar dan diikuti oleh khalayak umum.

Apakah benar video syur menjadi alat yang efektif untuk menaikkan popularitas di negara ini? Apakah mungkin public figure sengaja merekrut orang lain untuk merekam video asusila mirip dirinya atau bahkan merekam dirinya sendiri sebagai amunisi untuk meningkatkan status sosialnya? Saya tidak tahu pasti jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini. Namun berkaca dari kasus Ariel Noah pada tahun 2010 silam, satu hal yang pasti bahwa kasusnya berhasil menanamkan namanya di dalam benak setiap manusia Indonesia yang hidup pada zaman itu. Citra yang negatif memang, namun terbukti ampuh.

Sampai saat artikel ini selesai ditulis, GA telah memenuhi panggilan polisi terkait kasusnya. Apakah benar bahwa pelaku di dalam video tersebut adalah dirinya? Dan apakah iya namanya akan terdongkrak dalam kasta sosial masyarakat Indonesia? Kita tunggu saja tanggal mainnya.

“Takdir itu seperti Perkosaan, jika tidak sanggup melawan, cobalah untuk menikmati.” — Seseorang di Kaskus

Image for post
Image for post
Subjective Insight

A wandering soul who is always dreaming, both figuratively and literally.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store