Sebuah Perkenalan dengan Tabletop Role-Playing Game: Cerita tentang Perbuatan Heroikmu di Dunia Rahasia Penuh Fantasi

Ahhh… berangan-angan dan melamun di tengah pelajaran Matematika yang membosankan dan membuat setiap anak SD lebih memilih melakukan hal lain yang lebih tidak berfaedah — seperti mengganggu teman sebelah atau tidur di dalam kelas — memang merupakan hal terbaik dari masa kecilku. Gue lebih memilih untuk menuangkan setiap imajinasi yang terlintas di dalam pikiran seorang bocah ingusan berumur 7 tahun melalui guratan pensil di atas buku catatan. Peperangan hebat antara dua kubu yang masing-masing orangnya terbentuk dari lima garis dan satu bulatan berukuran sedang, perlawanan sekumpulan petualang melawan naga yang memiliki bentuk yang lebih mirip seperti Amoeba, dan perkelahian antara dua robot raksasa berbentuk kotak yang terlihat seperti tersusun dari kardus dibandingkan dari mesin-mesin canggih seperti di film-film. Namun terlepas dari buruknya kualitas dan kejernihan gambar seorang anak SD, di momen itulah gue pertama kali merasakan indahnya skenario-skenario di dalam imajinasi tak terbatas, yang ga akan pernah bisa gue rasain di kehidupan nyata. Gue bisa menonton pertarungan antara dua jagoan bela diri dari perguruan yang berbeda — masing-masing memiliki kemampuan supranatural yang berbeda pula — sedekat dan sesering yang gue mau, bahkan gue pun bisa masuk ke dalam dunia itu dan menjadi orang yang berbeda yang mengalahkan kedua jagoan bela diri tersebut. Semuanya hanya ada di kepala gue dan gue seorang. Yahh… setidaknya sampai Bu Guru sadar dan mengeplak kepala gue saking terlalu banyaknya melamun dalam kelas.

Beranjak dewasa, hobi gue untuk berimajinasi itu kian lama kian memudar. Kesibukan sekolah dan kuliah, kehidupan sosial, tuntutan hidup yang kian lama kian terasa berat membuat sebagian besar dari imajinasi diri kecil kita tertimbun oleh berbagai permasalahan hidup. Untungnya, sejak mengenal Tabletop Role-Playing Game (TRPG), imajinasi gue perlahan muncul ke permukaan kembali.

Ilustrasi Sesi Permainan TRPG

Apa Sih Sebenernya TRPG Itu?

Tabletop Role-Playing Game (TRPG) adalah sebuah aktivitas bermain peran yang pada masa awalnya dilakukan di atas meja dengan kertas, pensil, dadu dan buku. Tapi, seiring dengan perkembangan zaman, permainan ini juga dapat dilakukan secara online dengan bantuan berbagai macam aplikasi.

Nah, seiring dengan perkembangan zaman juga, istilah RPG menjadi lekat dengan permainan digital karena kepopulerannya, padahal Tabletop RPG ini adalah asal muasal dari semua permainan RPG digital tadi (itulah sebabnya sampai harus diberikan embel-embel tabletop di depannya agar tidak tertukar).

Saya sendiri pertama kali mengenal TRPG lewat salah satu video YouTube yang membahas tentang Dungeons & Dragons (biasa disingkat D&D). D&D sendiri merupakan sistem permainan TRPG yang paling terkenal di Amerika dan Eropa. Masyarakat Asia — termasuk Indonesia — jarang ada yang memiliki hobi bermain TRPG ini, oleh sebab itu saya bisa bilang bahwa hobi bermain TRPG merupakan hobi yang tergolong niche.

Image for post
Image for post
Pen, Paper, Dice, & The Character Sheet!

Setelah lulus kuliah dan merantau ke Jakarta, saya akhirnya mendapatkan kesempatan untuk bermain TRPG pertama saya menggunakan sistem Open Legend yang menurut saya lebih fleksibel dibandingkan sistem D&D. Intinya sih, sistem ini memberikan batasan-batasan permainan untuk memagari imajinasi-imajinasi liar setiap pemainnya agar tetap menghargai pemain lain dan menjaga agar flow permainan terasa menyenangkan di sepanjang sesi. Terlepas dari beberapa perbedaan dari masing-masing sistem, permainan TRPG ini pada umumnya mengikuti alur yang sama. Dimulai dari penentuan tema dan latar cerita, penentuan sistem TRPG yang cocok dengan tema dan latar cerita tadi, pembuatan cerita dan NPC (Non-Playable Character), pembuatan karakter setiap pemain, sampai akhirnya permainan siap dilakukan. Pada umumnya, akan ada satu orang (terkadang bisa lebih, tergantung sistem yang dipakai) yang bertindak sebagai Game Master. Bayangkan seorang sutradara yang mengarahkan setiap aktor untuk melakoni setiap scene dalam cerita, maka hal itu pula yang dilakukan oleh seorang Game Master. Sedangkan pemain lainnya akan bertindak sebagai aktor-aktor dan tokoh utama dalam cerita, yang akan memainkan karakternya masing-masing di dalam skenario cerita yang telah dibuat oleh sang Game Master.

Saya pun menyukai hal ini karena TRPG menggabungkan dua hal yang saya suka, yaitu storytelling dan permainan. Selain sebagai hiburan, ada beberapa manfaat lain yang saya rasakan saat bermain permainan TRPG ini, di antaranya:

1. Menumbuhkan Imajinasi dan Kreativitas

Bermain peran suatu karakter menuntut seseorang untuk memikirkan konsep karakter yang dibuatnya dari awal; seperti penampilan fisiknya, kemampuannya, nilai moralnya, tujuan hidupnya, pengalaman hidup sebelumnya, dll. Memainkannya di sepanjang sesi permainan pun membutuhkan imajinasi yang aktif dan kemampuan untuk berpikir secara langsung.

2. Mengajarkan Cara Pemecahan Masalah

Kebiasaan para pemain saat berkumpul bersama adalah bersatu untuk memecahkan sebuah masalah berupa situasi tidak terduga yang dihadapkan oleh jalan cerita. Layaknya seorang aktor tanpa naskah, setiap pemain dipaksa untuk berimprovisasi, bekerja sama, dan menggunakan apa yang mereka punya saat itu untuk menghadapi situasi-situasi tersebut. Membuat konsep karakter juga berarti menimbang-nimbang beberapa opsi, mengevaluasi kemungkinan-kemungkinan yang berbeda, dan (dalam beberapa permainan) menghitung angka-angka untuk melihat apa yang terbaik bagi si pembuat karakter.

Kombinasi dari kreativitas, pemecahan masalah, dan kerja sama yang diajarkan lewat permainan TRPG ini akan menjadi asset yang penting dan sangat berharga bagi perkembangan diri seseorang. Ditambah lagi, gaming membuat semuanya terasa menyenangkan.

3. Memperluas Pergaulan

Permainan TRPG membutuhkan paling sedikit 2–3 orang untuk dapat menjalankan sebuah sesi. Karenanya, sudah dapat dipastikan hobi ini dapat menambah teman dan koneksi yang memiliki hobi yang sama.

Selain itu, para pemain TRPG berasal dari berbagai kalangan — mulai dari yang berumur 60-an sampai dengan mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar; mereka yang memiliki cacat fisik ataupun tidak; mereka yang kurus maupun yang berbadan besar; mereka yang berasal dari berbagai kalangan profesional, mulai dari dokter, psikolog, penulis, ilustrator, desainer, pengacara, dan profesi lainnya. Dan semuanya dapat berhubungan baik satu dengan yang lain, bersenang-senang saat sesi permainan dimulai — mengesampingkan setiap perbedaan yang ada.

4. Mengasah Otak

Bermain peran merupakan sebuah aktivitas yang mengasah otak dalam segi kreativitas, memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang ada (open-minded), dan membuat kita merefleksi kehidupan dalam dunia sebenarnya.

5. Membiasakan Diri untuk Beradaptasi dan Berimprovisasi

Saat waktu rehat di antara sesi permainan, Game Master dan para pemain biasanya menghabiskan waktu mereka untuk melakukan riset dan menyiapkan rencana-rencana untuk sesi berikutnya. Tetapi pada kenyataannya, yang terjadi adalah tidak semua rencana tersebut bisa terealisasikan. Memang begitulah nature dari sebuah permainan TRPG, makanya improvisasi adalah kunci utama di dalam permainan ini. Para pemain dituntut untuk bisa beradaptasi dengan keinginan grupnya dan alur cerita yang sudah dipersiapkan, begitu pula seorang Game Master harus bisa beradaptasi di saat para pemainnya mengacuhkan cerita fantasi menakjubkan yang sudah dirangkai seapik mungkin dan lebih memilih untuk berjalan-jalan di reruntuhan kuno selama berjam-jam.

6. Melatih Diri untuk Rajin Membaca dan Giat Belajar

Ini beneran, lho! Dan saya tidak bercanda! Sistem-sistem TRPG yang sering digunakan — contohnya D&D, Pathfinder, dan Call of Cthulhu — memiliki berlembar-lembar aturan permainan di dalam bukunya dan mekanik-mekanik yang harus dimengerti saat bermain. Bermain TRPG memberikan kesempatan untuk belajar banyak hal dan informasi, dan seketika juga mengaplikasikannya di dalam setting yang kreatif!

7. Terakhir dan Paling Penting: Membuat Banyak Memori Menyenangkan Bersama!

Bermain TRPG dengan teman-teman saya dan orang lain di internet maupun board game cafe, telah memberikan banyak hiburan dan kejadian-kejadian lucu yang tidak akan pernah saya lupakan.

Konklusi

Sebagai anak kecil maupun sebagai seorang profesional, saya menyadari betul bahwa game sudah menjadi bagian dari diri saya dan telah membawa perubahan-perubahan positif dalam kehidupan saya. Mungkin terdengar klise, tapi bagi saya gaming merupakan salah satu hobi yang paling menghibur dan mengasah otak di saat yang bersamaan. Awal mula saya belajar bahasa Inggris adalah melalui console game yang saya mainkan saat masih duduk di bangku SMP.

Sama halnya dengan sekarang, TRPG membuat saya dapat bertemu dengan banyak pemain dan membangun relasi. Solving problems aand having fun together. Karena manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial dan memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesama manusia, termasuk para gamers.

Campaign “Imperial Inquisitors: In The Service of Evil”

Campaign ini merupakan campaign pertama yang gue mainkan di masa awal karir Tabletop RPG gue. Ceritanya sih basically seperti ini:

Suatu kerajaan merekrut enam orang dari latar belakang yang berbeda untuk menjadi “inquisitors” — yaitu pasukan yang memiliki tugas khusus untuk menginvestigasi dan menyelesaikan masalah yang ada di wilayah pemerintahan kerajaan tersebut.

Di sesi tersebut, gue bersama dengan 5 pemain lainnya menjadi “inquisitors” tersebut dan pergi bertualang untuk menyelesaikan kasus permasalahan di wilayah bagian timur kerajaan itu. Game master (GM) dari campaign ini punya cara unik tersendiri untuk “membumbui” setiap sesi yang dimainkan oleh pemainnya, yaitu dengan cara memberikan semacam keuntungan bagi pemain yang menulis journal entry karakternya di setiap sesi. Well, pastinya gue sebagai pemain yang berambisi tentunya ga mau melewatkan kesempatan ini, secara gue pun memang lagi suka-sukanya nulis pada saat itu. So, gue berharap jurnal-jurnal karakter gue di campaign iniyang gue namain Lenneth — bisa memberikan gambaran mengenai kesenangan yang bisa didapat melalui perkembangan cerita maupun karakter dari setiap sesi permainan Tabletop RPG dan meyakinkan kalian — para pembaca nih — untuk mencoba permainan Tabletop RPG ini — minimal sekali dalam seumur hidup — bersama dengan orang terdekat, baik itu keluarga maupun teman-teman kalian. But, ada kalanya kita terlalu emotionally-invested ke karakter yang kita buat sampai menyebabkan konflik di dalam sesi permainan. So, pastikan kalian ingat bahwa Tabletop RPG ini bahwasanya hanyalah sebuah permainan dan jangan sampai segala sesuatu yang terjadi di dalamnya kalian bawa ke dunia nyata dan kehidupan pribadi kalian. Always remember to play fairly, respect others, and don’t forget to have fun!

(N.B. Jurnal Lenneth bisa kalian baca di sini: https://medium.com/@musaandy5/compilation-of-lenneths-journal-from-imperial-inquisitors-in-the-service-of-evil-tabletop-rpg-ca12e828bc76)

Now,

Roll your initiative!

Oddly Satisfying

A wandering soul who is always dreaming, both figuratively and literally.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store