Yuk, Belajar Menulis Skenario Film!

Di tengah pandemi COVID-19 dan keharusan mengkarantina diri ini membuat mayoritas dari kita (termasuk saya) memiliki banyak waktu luang. Saking terlalu banyaknya, sampai-sampai saya sudah bosan dan tidak tahu mau melakukan apa lagi hingga akhirnya saya memutuskan untuk membuat artikel ini.

Beberapa minggu yang lalu, saya baru saja menyelesaikan sebuah kursus online gratis mengenai dasar penulisan skenario film. Saya memang memiliki ketertarikan terhadap dunia film dan storytelling sedari kecil. Sejak SD, saya hampir dapat dipastikan menghabiskan waktu untuk membaca komik, menonton kartun di televisi, dan bermain permainan console — hampir mirip dengan beberapa teman sebaya saya di sekolah. Beberapa permainan console yang saya mainkan dulu dan selalu terkenang sampai saat ini adalah permainan yang memiliki genre RPG (Role-Playing Games) yang pada umumnya memiliki struktur cerita yang jelas dan menempatkan para pemainnya sebagai protagonis utama dalam cerita. Beranjak SMP, saya mulai menyentuh dunia fiksi dan membaca novel pertama saya, yaitu Laskar Pelangi karya Andrea Hirata — yang membuat saya terkesima dan akhirnya berlanjut membaca tetraloginya.

Ketertarikan saya terhadap dunia storytelling dan film semakin diperkuat saat saya memasuki bangku kuliah. Saat di kampus dulu, saya aktif dalam kegiatan UKM perfilman di kampus saya, ikut terlibat di dalam pembuatan beberapa film pendek, dan sempat menerima beberapa pekerjaan lepas — seperti pembuatan video wedding, company profile, dsb. Semua hal tersebut berhasil mengasah kemampuan saya dalam hal kreatif maupun teknis pembuatan film dan produk audiovisual lainnya. Memasuki dunia kerja dan merantau sendirian ke Jakarta membuat saya tertarik untuk melakoni hobi baru, yaitu bermain Tabletop RPG. Permainan ini memang tidak sepopuler board game lain pada umumnya, namun Tabletop RPG ini memiliki daya tarik tersendiri bagi pemainnya. Bagi saya, daya tarik tersebut adalah kebebasan untuk berimajinasi dan merangkai alur maupun perkembangan karakter sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pemain itu sendiri (Tidak seperti pada buku fiksi maupun film, di mana kita diposisikan sebagai spectator atau penonton yang disuguhi cerita rangkaian sang penulis atau pembuat film). Aktif bermain Tabletop RPG ini bersama dengan komunitas dan teman-teman membuat saya bertekad untuk mempelajari penulisan skenario film lebih dalam lagi. (Pengalaman bermain TRPG merupakan salah satu pengalaman unik dalam hidup saya dan saya bagikan melalui tulisan di dalam tautan ini: https://medium.com/@musaandy5/sebuah-perkenalan-dengan-tabletop-role-playing-game-cerita-tentang-perbuatan-heroikmu-di-dunia-7d1c2cd6e368).

The Five Finger Pitch

Pelajaran pertama yang saya pelajari adalah teknik membuat premis cerita menggunakan lima jari, yang disebut dengan Five Finger Pitch. Secara garis besar, teknik ini membagi 5 unsur penting dalam cerita ke dalam lima jari — mulai dari jari kelingking sampai dengan ibu jari — dan diisi dengan kalimat pendek yang muat ditulis di dalam masing-masing jari tersebut. Kemudian, kalimat-kalimat tersebut digabung ke dalam satu paragraf ajakan yang dapat membuat orang tertarik.

Image for post
The Five Finger Pitch
Image for post
Contoh penerapan The Five Finger Pitch

Seperti contoh di atas, penulis ingin membuat sebuah film dengan genre teen drama tentang seseorang berusia 16 tahun yang kabur dari rumah dan berusaha untuk mencari tahu tentang latar belakangnya dengan cara menumpang dan berkelana dari satu negara ke negara lain. Namun, usahanya terkendala lantaran dia tidak mengetahui nama keluarganya (nama keluarga ini dapat mempermudah usahanya mencari latar belakang dirinya). Film ini dibuat karena penulis peduli dengan isu-isu kemanusiaan seputar anak yang ditelantarkan oleh keluarganya.

Saya pun membuat Five Finger Pitch sendiri berdasarkan imajinasi saya saat itu:

Genre: Fantasy/Drama/Animation
Main Protagonist: An alien teen in his early 20s
Goal: Seek knowledge & direction about his purpose in life
Obstacle: His limited wisdom & stubbornness
What’s Important: Quarter-life Crisis

Kemudian, kata-kata tersebut saya gabung dan susun ke dalam satu paragraf persuasif yang kohesif:

Pitch: This is a fantasy drama animation movie about an alien teenager in his early 20s who seek knowledge about his purpose and direction in life. By experimenting with different activities and go against the usual norms in his daily life, he believes he can find the answer. But his limited wisdom and stubbornness often hinders his progress. This story is important because more than often teenagers, including me in the past, faces quarter-life crisis phase in their life and didn’t know how to face it.

The Three Act Structure

Struktur Tiga Babak (Three Act Structure) merupakan sebuah kerangka yang membagi cerita ke dalam 3 babak — pengenalan, konflik, dan konklusi. Babak pertama biasanya terletak di dalam 20–30 menit pertama dalam film. Memiliki tujuan untuk memperkenalkan elemen-elemen dasar cerita, seperti “tentang apa film ini?”, “siapa (tokoh utama) memiliki tujuan yang ingin ia capai (menginginkan sesuatu)”. Babak pertama ini juga memberi tahu tentang “bahasa” film yang digunakan.

Babak kedua pada umumnya mengambil porsi durasi film terbanyak (sekitar setengah dari total keseluruhan durasi film). Di sinilah tokoh utama akan menghadapi berbagai konflik dan tantangan yang menghalanginya untuk mencapai tujuannya. Karakter utama dalam film akan dihadapkan pada berbagai situasi baru, pertanyaan-pertanyaan penting, dan hubungan-hubungan baru yang akan mempengaruhi caranya dalam mengambil keputusan.

Babak ketiga merupakan klimaks dari cerita. Tokoh utama telah mengalami perubahan secara karakter — tidak peduli perubahan itu ke arah yang baik atau malah sebaliknya — setelah mengalami berbagai rintangan dan kesulitan pada babak kedua tadi. Cerita akan sampai pada konklusinya pada babak ini.

Alternate Story Structure

Struktur Tiga Babak merupakan struktur yang paling umum digunakan dalam penyusunan skenario film. Namun, beberapa penulis menggunakan struktur yang berbeda dalam menyajikan ceritanya.

  • Babak yang lebih sedikit (contoh: pertunjukan panggung biasanya hanya menggunakan 2 babak) atau lebih banyak (contoh: drama televisi biasanya menggunakan 4 babak atau lebih).
  • Struktur Tiga Babak, namun dengan element of surprise and uncertainty (contoh: false protagonist).
  • Ritme cerita dan struktur yang sama sekali berbeda dengan Struktur Tiga Babak.
  • Tidak menunjukkan pertanyaan dramatikal atau menghindari konklusi cerita yang jelas.
  • Multiple storylines: dihubungkan dengan kejadian serupa, tempat, atau suatu tema (koherensi keseluruhan film terletak pada hubungan antar storyline-nya).
  • Menghancurkan emotional hold dari Struktur Tiga Babak (membuat kita berpikir, terkoneksi dengan cerita secara intelektual, atau membuat kesan “terasingkan”).

The Ten Finger/Two Handed Pitch

Pelajaran pertama di minggu kedua: mengembangkan Five Finger Pitch menjadi Ten Finger/Two Handed Pitch. Lima jari di tangan kedua masing-masing diisi oleh poin-poin penting dalam babak kedua dan ketiga. Peraturannya masih sama: setiap kalimat harus cukup pendek untuk bisa muat ditulis di masing-masing jari. Setelah menyelesaikan ini, kita akan mendapatkan 10 poin outline padat untuk cerita yang akan dibuat.

  • Ibu Jari: mencakup setengah bagian pertama dari babak kedua. Tokoh utama mulai berusaha untuk mencapai tujuannya.
  • Jari Telunjuk: midpoint dari cerita yang terdapat pada babak kedua. Tokoh utama mengalami perubahan dalam dirinya.
  • Jari Tengah: setengah bagian kedua dari keseluruhan cerita. Momen krisis, di mana semuanya menjadi berantakan (false victory/near disaster)
  • Jari Manis: awal dari babak ketiga. Tokoh utama menghadapi konfrontasi terakhir.
  • Jari Kelingking: akhir dari babak ketiga. Klimaks dan resolusi dari cerita.

Berikut pengembangan Ten Finger Pitch dari Five Finger Pitch yang sudah saya buat.

First Half: He stops going to college and somehow meet a human in an outskirt when he was wandering by himself

Midpoint: He starts a friendship with the human and ask him about his life at his home planet, Earth

Second Half: He wants to go to Earth with his human friend, but the human refuses

Final Confrontation: He breaks his friendship with the human while the alien society has spotted the human and planned to capture him

Climax: He is able to save his human friend, send him home to Earth, and find the answer he seeks all this time through his short relationship with the human

Thoughts on Character

Hal penting yang harus diingat seorang penulis naskah ketika membuat tokoh dalam film adalah untuk membuat sebuah peran yang akan dimainkan, bukan sebuah karakter yang utuh. Berikan ruang bagi para aktor untuk melakukan improvisasi dan menginterpretasikan sendiri peran yang akan dimainkannya.

Image for post
Photo by mari lezhava on Unsplash

Tokoh-tokoh dalam film dikenal berdasarkan apa yang mereka lakukan. Cerita akan digerakkan oleh konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil oleh tokoh dalam film.

Setiap manusia pasti menginginkan banyak hal, dan kita tidak selalu sadar dengan keinginan-keinginan ini. Terkadang, keinginan-keinginan ini saling bertumbukan satu sama lain. Kombinasi inilah yang menciptakan kompleksitas di dalam tokoh-tokoh sebuah film.

Cerita yang baik adalah cerita yang terus-menerus memberikan ujian, pertanyaan-pertanyaan baru, dan keputusan-keputusan genting yang harus diambil oleh tokoh utama. Respons tokoh utama dari pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan menentukan arah cerita. Respons dari setiap tantangan ini jugalah yang akan memicu perubahan internal di dalam diri tokoh utama (biasa disebut dengan “character arc”).

Sebagai latihan, saya membuat daftar major actions yang dilakukan karakter utama sepanjang film dengan urutan terbalik (mulai dari akhir film sampai awal film).

Major Actions:

- Helps his human friend return to Earth

- Stops the alien society

- Reminisces about his friendship with his human friend

- Breaks his friendship with his human friend

- Confront his human friend about his desire to go to Earth

- Go sightseeing and share stories together with his human friend

- Disguise his human friend and do activities together

- Meet a human and become his friend

- Drops out of college

- Becomes a “rebel”

- Losses direction and starts to question his own life

Saya juga menjabarkan unsur-unsur karakternya ke dalam wants, needs, psychology, superficial affect, dan physical yang dimilikinya.

Wants: knows purpose of his life (didn’t aware)

Needs: self-actualization

Psychology: impulsive, cognitive biases, Dunning-Kruger effect

Superficial Affect: his acquaintance sees him as someone who follows the rules, a good kid, a normal person, one of the quiet type but has no problem socializing

Physical: normal height, normal weight, loves to wear a hoodie and sneakers, looks bored when alone and fakes his excitement when talking to people

Creating The Scene

Hal pertama yang sebaiknya dilakukan saat menulis scene adalah memulainya dengan sebuah dramatic task. Dramatic task inilah yang akan menjadi pertimbangan dalam konteks keseluruhan penceritaan film.

Naskah adalah tentang aksi yang didramatisir. Aksi ini bersumber dari konflik yang berasal dari dalam diri karakter, dari tokoh lain (biasanya dari tokoh antagonis), alam, atau makhluk supernatural.

Beberapa hal yang harus diperhatikan saat membuat sebuah scene film:

  • Tentukan dulu “siapa”, “apa”, dan “kenapa”nya; baru kemudian “di mana”, “kapan”, dan “bagaimana”.
  • Karena medium penceritaan yang dipakai adalah medium audiovisual (film), maka deskripsi dibatasi dengan apa yang bisa dilihat dan didengar.
  • Penulis naskah bertugas untuk menjelaskan flow of action secara ringkas, padat, dan jelas. Hindari menuliskan deskripsi yang terlalu detail.
  • Tangkap semua emotional flow dari cerita.

Selain itu, scene dalam film juga dibagi ke dalam 3 jenis:

  • Expository scenes: scene yang memberikan informasi tentang cerita dan tokoh-tokohnya, membuatnya masuk akal, dan menentukan mood maupun tone untuk scene selanjutnya.
  • Spectacle scene: scene yang diperuntukkan untuk membuat takjub penontonnya.
  • Dramatic scene: scene yang bisa mengubah karakter tokoh, menggerakkan cerita ke arah yang berbeda, dan menghasilkan emotional impact yang paling banyak.

Dialogue and Character Voice

Fungsi utama dari dialog adalah untuk membawa cerita maju sesuai alurnya. Dialog dapat membelokkan emosi dari sebuah scene. Perlu diingat juga, apa yang tidak dikatakan sama pentingnya dengan apa yang dikatakan.

Image for post
Photo by Dima Pechurin on Unsplash

Dialog akan menunjukkan karakter tokoh, baik dari apa yang dikatakannya maupun bagaimana cara hal tersebut dikatakan. Interplay dari masing-masing tokoh dalam film memperlihatkan hubungan maupun dominansi antar tokoh. Dialog juga bisa memperjelas tema dari cerita yang sedang dipertontonkan. Dialog dapat digunakan untuk memberikan informasi supaya penonton mengerti maksud dari suatu adegan.

Dialog yang baik adalah dialog yang dapat melakukan semua hal tadi secara serempak, terdengar natural, dan memberikan suara yang berbeda pada setiap tokohnya. Dialog terbaik membuat semua itu terdengar effortless dan memorable. Dialog inilah yang menunjukkan ciri khas dari setiap tokohnya.

Cara seorang tokoh berbicara dipengaruhi oleh faktor-faktor dari latar belakangnya dan sifat-sifat individualnya. Hubungan interpersonal antar tokoh sangat penting dikarenakan semua pembicaraan pada umumnya dimaksudkan untuk menaikkan status pembicara di hadapan lawan bicaranya. Latar belakang tokoh, balance of power, desakan untuk mencapai suatu tujuan — semua ini berkombinasi untuk menghasilkan pembicaraan yang alami dan sesuai dengan situasi dramatik.

Saat membuat dialog, usahakan untuk memposisikan diri sebagai tokoh yang sedang berbicara. Apa yang akan dia bicarakan pada saat tertentu? Bagaimana cara penyampaiannya? Apa topik pembicaraan yang akan dia hindari saat bertemu orang tertentu? Selain itu, perhatikanlah bagaimana cara orang-orang berbicara di dunia nyata. Sering kali, informasi yang ingin disampaikan satu pihak tidak sepenuhnya diterima oleh pihak lain sehingga menyebabkan misunderstandings yang dapat membuat film menjadi semakin dramatis.

Latihan berikutnya, saya mencoba membuat sebuah dialog singkat antara Rudy si alien dengan teman manusianya yang baru.

Rudy walks around inside a forest with his new human friend. The forest is mostly quiet, with some cricket-like noises here and there. It is filled with giant mushroom trees, with some other weird-looking plants surround it.

Rudy: “So, uhh… I forgot to ask your name before… You do have a name, don’t ya?”

The human doesn’t respond to Rudy’s question.

Rudy: “Hey, you listenin’?”

The human snaps out from his daydream.

Human: “Huh? I’m sorry, what did you ask?”

Rudy: “I’m askin’ you, do you have a name? My name is Rudy.”

Polo: “Oh, of course, my name is Polo.”

Rudy: “Pfft… what a funny name. No offense though. I just never heard that name before.”

Polo: “Yeah… I guess humans and aliens are different after all.”

Rudy: “So, why are you inside that weird-lookin’ giant tin can before?”

Workflow for Writing First Draft

Semua yang telah diajarkan di dalam kursus online dirangkum di dalam pelajaran terakhir ini, yaitu workflow untuk menulis draft pertama. Draft pertama ini merupakan naskah paling pertama dalam sebuah film yang dibuat oleh penulis skenario. Perlu diingat bahwa draft pertama ini bukanlah hasil akhir dan pasti akan mendapat banyak masukan dan revisi dari sutradara, produser, maupun kru film lainnya. Naskah film juga bukan diperuntukkan untuk hasil akhir yang akan ditonton oleh orang banyak, melainkan berfungsi sebagai blueprint bagi para aktor dan kru film.

Image for post
Photo by Scott Graham on Unsplash

Berikut beberapa langkah untuk mulai menulis draft pertama naskah film secara berurutan:

  1. Develop The Story Idea (“someone wants something, but has trouble getting it”).
  2. Create The Pitch (Five Finger Pitch, lalu kembangkan menjadi Ten Finger/Two Handed Pitch).
  3. Give It Structure (sesuaikan dengan alur cerita yang dibuat, jangan ceritanya yang menyesuaikan struktur).
  4. Build A Full Story (buat sebuah sinopsis/treatment).
  5. Create A Beat Sheet/Step Outline (di Indonesia, metode yang paling umum digunakan adalah metode “delapan sekuens”).
  6. Write The Script (Kejar kuantitas terlebih dahulu, baru kemudian merevisinya untuk menghasilkan kualitas naskah yang lebih baik).

Conclusion

Diharuskan untuk tetap berada di rumah dan tidak bisa pergi ke mana-mana tentu menjadi hal yang jenuh dan membosankan bagi banyak orang. Tidak terkecuali saya. Bekerja dari rumah, belajar dari rumah, segala sesuatunya harus dilakukan hanya dari rumah.

Namun, salah satu sisi positifnya adalah kita dapat memiliki lebih banyak waktu luang dan waktu lebih untuk berkumpul bersama keluarga. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan untuk menghilangkan rasa jenuh dan tetap produktif walaupun seharian hanya berada di rumah saja, salah satunya adalah dengan tetap memperkaya pengetahuan diri melalui kursus online. Bagi kalian yang tertarik untuk belajar mengenai dasar penulisan skenario film atau sekadar penasaran dan ingin tahu tentang proses pembuatannya, saya merekomendasikan kursus online yang diajarkan oleh instruktur-instruktur dari salah satu universitas di Inggris ini. (Tautan kursus: https://www.futurelearn.com/courses/screenwriting). Percayalah bahwa ilmu merupakan investasi yang paling menguntungkan dan belajar merupakan proses yang kita lakukan seumur hidup kita. Perkaya diri dengan pengetahuan akan hal-hal yang kita minati, niscaya ilmu tersebut akan mendekatkan diri kita dengan mimpi-mimpi kita.

“My movie is born first in my head, dies on paper; is resuscitated by the living persons and real objects I use, which are killed on film, but placed in a certain order and projected onto a screen, come to life again like flowers in water.”
― Robert Bresson, Notes on the Cinematographer

Image for post
Oddly Satisfying

A wandering soul who is always dreaming, both figuratively and literally.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store